Seorang kemenakan curhat kepada pamannya perihal mimpinya. “Paman .., saya bermimpi diajari ilmu memasuki langit oleh syaithan. Wahai Paman apakah makna dari mimpi saya ini ?tanya sang kemenakan. Kebetulah Kemenakan ini sering kali mimpi hal yang aneh-aneh. Dari bermimpi bertemu jin, tuyul, syaithan, alam barzah sampai mimpi melihat malaikat.

Dari sekian banyak mimpi yang dialaminya, mimpi diajari oleh syaithanlah yang sangat mengganggunya. Maka didatanginya beberapa alim untuk menakwilkan mimpinya, tapi semua belum memuaskan hatinya. Sampai suatu hari ia bertemu Pamannya.

Permintaan menta’wil mimpi kemenakan, dijawab Sang paman dengan sebuah cerita :

Di sebuah pondok pesantren yang dipimpin oleh seorang Kyai alim yang bersahaja, memiliki belasan santri yang dengan giat dan tekun belajar Al Islam, bahkan diantara santri ada yang melakukan riyadloh dengan puasa senin kamis, qiyamul lail, dan berbagai macam amalan yang lain.

Walhasil pondok tersebut akhirnya bisa melahirkan Kyai – Kyai Muda yang mumpuni, alim dan berkepribadian mulia. Di antara para kyai muda tersebut, ada seorang kyai yang sukses hingga memiliki pesantren yang besar dan memiliki ribuan santri, jauh melebihi dari gurunya (kyai) dulu.

Di dalam keberhasilan kyai muda tersebut, ada salah seorang santri yang memperhatikan setiap prilaku Sang Kyai. Sosok Kyai Muda yang bersahaja, ramah dan kasih sayang pada setiap santri, yang selalu menjaga ibadah wajib dan sunnah, yang pengajarannya mudah diterima santri. Namun demikian, satu hal yang terasa ganjil pada Kyai Muda. Si santri tidak pernah mendapati Kyai muda menghadliri sholat jum’at di masjid pesantren.

Karena Kyai muda terkenal sebagai kyai yang santun dan terbuka pada segala masukan. Maka santri tersebut memberanikan diri bertanya kepada Kyai,” Kyai, mohon maaf sebelumnya kalau saya ‘lancang’ bertanya kepada ‘Panjenengan”.” Saya kok tidak pernah lihat Kyai ikut sholat jum’at di masjid pesantren ?”, “Apakah Kyai ada jadwal khotib di masjid lain ?” tanya santri dengan berharap tidak menyinggung perasaan kyai Muda.

Tersenyumlah kyai Muda mendengaar pertanyaan santri, “Oo… begitu, jadi kamu ingin tahu saya sholat jum’at di mana?”, tegas kyai,”Begini santriku, kuberitahukan kepadamu bahwa selama ini saya selalu sholat jum’at di ‘Masjidil Haram’ Makkah”. Mendengar jawaban Sang Kyai, santripun merima walau hatinya dijangkiti perasaan antara kagum dan tak percaya. Setelah berterikasih atas jawaban kyai, santripun pamit ke pondokan.

Di dalam pondokan si santri bertanya-tanya dalam hati, benarkah kyainya sehebat itu (bisa ke kota Makkah yang jaraknya ribuan kilo dalam waktu sekejam), benarkah kyainya memiliki ilmu “nglempit bumi”, benarkah kyainya telah mencapai maqom “Waliyulloh” sehingga memiliki karomah yang luar biasa, dan sederet pertanyaan lainnya yang tak terjawab.

Pertanyaan-pertanyaan ini muncul dikarenakan si santri tahu siapa guru dari Kyai Mudanya. Seorang kyai yang sudah sepuh yang istiqomah dan bersahaja dalam mengajar. Yang tak pernah memperlihatkan keanehan (kesaktian/kadigdayan) ataupun karomah yang dimiliki. Walhasil sebab penasaran, santri memberanikan diri menemui guru dari Kyainya.

Di dahului salam ta’dzim santri menyapa Kyai Sepuh, ”Assalamu’alaikum Kyai …!”,
”Wa ’alaikum Salam Warohmatulloh ..!”, jawab Kyai Sepuh.
”Kamu siapa ?”, tanyanya kemudian.
” Perkenalkan Saya adalah santri dari Kyai Muda. Tujuan saya kemari … pertama silaturrahim, kedua saya ingin menyampaikan kegelisahan hati saya mengenai guru saya yang setiap sholat jum’at selalu sholat di Masjidil Haram Makkah”, kata santri menguraikan maksud kedatangan.

Mendengar penuturan si santri, Kyai Sepuh tersenyum sambil berkata, ”Oo begitu ya !”,” Kalau demikian sampaikan salamku pada Kyaimu, dan saya titip pesan bila ke Makkah lagi supaya membawakan oleh-oleh kurma Thoif”.

Setelah mohon diri Santripun kemudian menghadap pada Kyai Muda. Ba’da salam santri berkata, ”Kyai ngapunten, saya baru saja silaturrahim ke Kyai Sepuh”.
Mendengar si santri dari Kyai Sepuh, Kyai Muda menanggapi dengan senang, ”Dari Kyai Sepuh …? Adakah pesan Kyai Sepuh untuhk saya wahai Santriku ?”
”Inggih, beliau titip salam dan pesan bila Kyai ke Makkah …, Kyai Sepuh minta dibawakan oleh-oleh kurma Thoif”, jelas santri.

”Kyai Sepuh hanya pesan kurma Thoif …? Atau barangkali masih ada pesan lain yang belum kamu sampaikan ?” tanya Kyai Muda memastikan.
Kyai Muda sebenarnya adalah santri yang sangat menghormati guru, maka beliau tidak ingin mengecewakan gurunya.
”Tidak ada Kyai, hanya itu ”, jawab santri
”Kalau begitu insya Alloh nanti malam saya ke Makkah, dan besok pagi kamu ke sini mengambil pesanan Guruku”, kata Kyai Muda.
”Inggih, sendiko dawuh”, jawab santri.

Sesuai waktu yang ditentukan, ba’da wirid Subuh Kyai Muda memanggil santri,
”Santri … kurma pesanan guruku sudah ada di rumah, tolong kamu ambil dan segera antarkan ke Kyai Sepuh”.”Jangan lupa salamku untuk Kyai Sepuh”, tambah Kyai Muda
”Inggih..!” jawab santri.

Santri pun segera ke nDalem Kyai untuk mengambil kurma. Dipandangi sekeranjang kurma Thoif segar yang baru diambilnya, dalam hati… santri merasa ta’ajub, ”Subhanalloh, luar biasa, Allohu Akbar walillahi hamd”. Kyai mudanya benar-benar membawakan kurma yang hanya ada di Makkah.

Segera santri menuju kyai Sepuh untuk memberikan kurma Thoif. Setelah salam dan sedikit basa basi, santri menyerahkan kurma pesanan Kyai.
Dengan senang Kyai Sepuh berkata pada santri, ”Lha… seperti inilah kurma Thoif”.”Kurma ini sangat enak dan dikenal dengan istilah kurma Nabi”.”Kamu boleh mencicipi”. Setelah mencicipi kurma Thoif, Kyai melanjutkan perkataanya, ”Oh ..ya. Kamis depan kamu saya minta ke sini lagi”.”Ada pesan yang ingin saya sampaikan untuk gurumu”.
”Inggih Kyai, Insya Alloh!”, jawab santri.

Setelah kembali ke pondok, santripun menyampaikan perihal pesan Kyai Sepuh pada Kyai Muda. Kyai Mudapun berwasiat agar jangan sampai lupa ke pesantren Kyai Sepuh pada hari kamis.

Kamis ba’da sholat subuh, santri ke pesantren Kyai Sepuh memenuhi janjinya. Sesampai di pesantren, kyai Sepuh sudah menunggu di serambi masjidnya. Setelah salam ta’dzim terucap kyai mempersilahkan santri duduk untuk menunggu, karna kyai Sepuh harus menyiapkan dulu pesan yang hendak dititipkan pada Kyai Muda.

Beberapa saat kemudian, kyai Sepuh menghampiri santri sambil membawa surat beramplop. Beliau lalu berkata, ” Saya ada surat untuk penjaga menara Masjidil Haram, saya minta tolong pada gurumu untuk disampaikan bila nanti berangkat ke Makkah”. ”Dan beritahukan surat ini jangan sampai dibuka kecuali bila sudah bertemu penjaga menara!”.”Sampaikan salam dan trima kasih saya pada Kyai Muda !”imbuh kyai Sepuh.
”Baik Kyai !”jawab santri dengan penuh hormat.

Segera santri kembali ke pondokannya dan menemui kyai Muda. ”Assalamu’alaikum Kyai …!” ucap santi.
”Wa’alaikum salam warohamatulloh !” jawab kyai Muda,”Santri … ada titipan apa dari Kyai Sepuh ?” tanyanya kemudian
”Kyai Sepuh, titip surat untuk diberikan kepada penjaga menara Masjidil Haram”.”Belaiu pesan untuk tidak membuka surat kecuali di depan penjaga menara”, jelas santri menirukan kyai Sepuh.
”O .. begitu, insya Alloh menjelang mangrib nanti saya berangkat”, kata kyai Muda menutup pembicaraan.

Kyai Muda berangkat ke Masjidil Haram ketika hari menjelang maghrib. Sampai di Masjidil Haram hari telah gelap. Tampak lampu – lampu penara Masjidil Haram bersinar sangat terang, manambah keindahannya di malam hari. Setelah sholat isya’ dicarilah penjaga menara sesuai yang tertulis pada amplop surat. Tepatnya penjaga menara yang berapa di atas menara masjid bagian pojok barat.

Setelah menyampaikan salam, kyai Muda berkata pada penjaga menara, ”Saya dititipi surat untuk Anda oleh Kyai saya di Jawa”.
”Oh, iya mana suratnya ?” tanya penjaga menara
Kyai Muda pun menyerahkan amplop coklat berisi surat dari kyai Sepuh. Penjaga menara menerima dan langsung membukanya. Tapi setelah melihat lembaran surat, penjaga menara berkata, ”Kyai Muda saya tidak bisa membaca surat ini, tolong Anda membacakan untuk saya”, pinta penjaga menara.

Kyai muda menerima kembali suratnya dan mulai membaca isi surat. Ketika isi surat sedang dibaca, tiba – tiba seluruh lampu di Masjidil Haram mati.. Kyai Muda pun panik. ia berupaya mencari pegangan supaya tidak jatuh atau tergelincir. Alhamdulillah … kyai Muda berhasil berpegangan pada sebuah tiang. Tapi aneh tiang batu yang tadi dipegang berubah menjadi sebuah pohon. Lambat – lambat diperhatikan sekitar, masih sangat gelap, namun demikian kyai Muda akhirnya menyadari bahwa dia berada di atas sebuah pohon pinus. Mau turun khawatir, karena kondisi di bawah tidak terlihat. Jangan – jangan ada binatang buas. Akhirnya kyai Muda memutuskan untuk turun ketika hari menjelang subuh.

Setelah cahaya pagi semakin jelas, kyai Muda semakin yakin bahwa Masjidil Haram yang selama ini dia datanngi tidak lain hanyalah sebuah hutan pinus yang letaknya tidak jauh dari pesantrennya.

Setelah turun dari pohon, Kyai Muda membulatkan tekat untuk pergi menghadap Kyai Sepuh. Kyai Muda ingin tahu apa yang sebenarnya ia alami. Dikarenakan titipan surat dari Kyai Sepuh menara Masjidil Haram menjadi pohon.

Setelah menerima penjelasan dari Kyai Sepuh, Kyai Muda sadar bahwa selama ini dia telah ditipu mentah – mentah oleh syaithan. Dikiranya dia telah mencapai maqom Waliyulloh yang mendapat karomah ilmu Lipat Bumi. Dikiranya dia telah ”Wusul ilalloh” hingga semua keinginannya terpenuhi. Begitu canggihnya Syaithan membuat tipu daya hingga mengaburkan tujuan hakiki setiap hamba beribadah kepada Alloh.

Pamanpun berkata pada kemenakan,
” Jangankan hanya membuat ”Duplikat” Masjidil Haram, Iblis sanggup menyaru sebagai Alloh seperti halnya yang terjadi kepada Syaikh Abdul Qadir Al Jilani”.

”Iblis dan bala tentaranya akan terus menggoda setiap muslim ila yaumil qiyamah”.
“Dari iman yang paling rendah sampai yang dianggap tinggi”,
”Dari membuat goyah keimanan sampai dengan membuat orang takabbur akan ilmu dan ibadahnya”.

Sejarah membuktikan “Iblis” sanggup meruntuhkan keimanan “Barseso” yang konon oleh Alloh telah dianugerahi kemampuan melihat Arsy. Iblis pun telah merubah arah keimanan Musa Samiri yang bisa melihat jejak langkah Malaikat.

MASYA ALLOH LAA QUWWATA ILLA BILLAH, JAUHKANLAH KAMI DARI CANGGIHNYA TIPU DAYA SYAITAN YAA ALLOH, KAMI BERLINDUNG KEPADAMU

Wallohu a’lam

Al kisah

Saya dengar cerita ini dari ayah saya. Jaman dahulu kala hiduplah sebuah keluarga yang kaya raya dan berbahagia. Sang suami adalah seorang yang sholeh lagi tampan, istrinya pun seorang yang sholihah cantik pula. Bertahun-tahun kebahagian ini mereka rasakan dengan penuh rasa syukur kepala Alloh Ta’ala sampai mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang elok rupanya. Keluarga ini memberinya nama (sebut saja Ahmad) buah hati anugrah dari Alloh Yang Maha Agung.

Tapi, kehidupan dunia ini memang ujian. Alloh berhak membolak-balikkan taqdir manusia. Keluarga yang tadinya diselimuti kebahagiaan, kekayaan harta yang melimpah, semua hajat keinginannya selalu terkabul, dibalik 180 derajat oleh Alloh. Sang suami diuji oleh Alloh dengan sakit berat hingga menghabiskan harta kekayaannya. Meski demikian sakit Sang suami belum kunjung sembuh bahkan semakin parah. (lebih…)

Rasulullah saw bersabda: “Jauhilah olehmu prasangka, karena prasangka adalah sebohong bohongnya ucapan, dan janganlah kamu mencari kejelekan orang lain, dan janganlah kamu merasa baik, dan janganlah kamu saling menghasut, dan janganlah saling membenci, dan janganlah saling berpaling dan jadilah engkau hamba-hamba Allah yang bersaudara”

Al kisah di sebuah pesantren kecil di pedalaman pulau Jawa tinggal seorang Kyai sepuh yang terkenal dengan kearifannya. Suatu hari datang 3 orang Kyai muda bertamu kepada beliau.

Kedatangan tamu Kyai Muda disambut sang Kyai sepuh dengan penuh keramahan dan diberikan pelayanan sebagaimana tamu terhormat.

Ketika datang waktu sholat maghrib, Kyai sepuh mengajak ketiga tetamunya untuk sholat berjama’ah. Dimintanya salah seorang dari tetamu untuk menjadi imam sholat maghrib. Tetapi ketiga tetamu menolak dengan alasan “Ashhabul Ma’had” lebih afdhol untuk menjadi imam dari pada mereka yang hanya sebagai tamu.

Ketika sholat berlangsung dirasakan bacaan surat Kyai Sepuh tidaklah sefasih yang dibayangkan para Kyai muda. Walhasil selepas sholat maghrib ketiga Kyai Muda membincangkan perihal bacaan Kyai Sepuh.

Kebimbangan Kyai Muda atas bacaan Kyai Sepuh sebenarnya disadari dan diketahui oleh Kyai Sepuh, sehingga sejak awal Kyai Sepuh meminta diantara Kyai Muda ada yang sudi menjadi imam. Tetapi kenyataan itu telah terjadi dan Kyai Sepuh sengaja tidak segera memberi tanggapan atas rerasan Kyai Muda mengenai bacaan Kyai Sepuh. Sampai keesokan harinya…

Saat takhrim dikumandangkan dari musholla, Kyai Sepuh dan ketiga tamunya mempersiapkan diri untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Kyai Sepuh terlebih dahulu mandi dan mengambil air wudlu di sungai dekat pesantren, kemudian diikuti ketiga tamunya.

Para santri telah menunggu di musholla dengan mengumandangkan Adzan Subuh dilanjutkan puji-pujian menjelang sholat. Kyai Sepuh telah hadir di musholla dan lantunkan pujianpun diakhiri dilanjutkan iqomah oleh seorang santri.

Ada yang janggal dirasakan oleh Kyai Sepuh pada subuh hari itu. Sampai dzikir ba’da sholat selesai ketiga Kyai Muda tamu Kyai Sepuh belum terlihat di musholla. Ada rasa khawatir pada diri Kyai Sepuh, dicarilah ketiga tetamu ke sungai tempat mengambil air wudlu.

Betul perkiraan Kyai Sepuh, ternyata ketiga Kyai Muda masih berada di dalam air. Kyai Sepuhpun menegur,

“Wahai para Kyai waktu shubuh sudah hampir habis, mengapa Anda belum juga naik ?

Salah seorang Kyai Mudapun menjawab,

“Ya Kyai tidakkah Anda melihat di tempat kami menaruh pakaian ada seekor harimau yang duduk di situ ?”.”Kyai …tolong usir harimau itu sehingga kami dapat segera melaksanakan sholat subuh !”

Melihat hal itu Kyai Sepuh kasihan dengan para Kyai Muda dan dengan mengangkat telunjuknya diusirlah harimau yang menduduki pakaian Kyai Muda. Aneh bin ajaib. Harimaupun pergi menuruti perintah Kyai Sepuh.

Begitu ta’ajub ketiga Kyai Muda dengan kecanggihan Kyai Sepuh, hanya dengan mengangkat telunjuk, harimau sudah takut dengan sang Kyai. Bertanyalah ketiga Kyai Muda,

“Ya Kyai… ilmu apa yang ada miliki sehingga hanya dengan mengacungkan telunjuk harimau begitu takut kepada Kyai”

Dengan tersenyum Kyai Sepuh menjawab,

“Para Kyai … anda pun sebenarnya bisa melakukannya. Hanya karena Anda bertiga memandang sesuatu hanya dari luarnya saja maka Anda tidak bisa melakukannya”.

“Harimau, dilihat dari bentuk luarnya adalah besar dan buas, tetapi pada hakekatnya harimau hanyalah seekor binatang yang kemampuannya jauh dibawah kemampuan manusia dan seharusnya tunduk terhadap manusia”

Mendengar penjelasan Kyai Sepuh, Kyai Muda akhirnya menyadari kehilafannya. Mereka pun memohon maaf kepada Kyai Sepuh karena telah meragukan (meremehkan) dengan hanya karena mendengar bacaan Kyai Sepuh.

WaLLohu ta’ala a’lam

Dalam Al-Quran, Allah swt menunjukkan kemurkaan-Nya kepada orang-orang yang berbicara: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu membicarakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. Al-Shaf: 3) Meskipun demikian, dalam Al-Quran juga disebutkan bahwa kemampuan bicara adalah fitrah manusia yang diberikan oleh Allah seperti dinyatakan dalam surat Al-Rahman: Tuhan Yang Mahapemurah, Yang telah mengajarkan Al-Quran. Dia menciptakan manusia dan mengajarnya pandai berbicara. (QS. Al-Rahman: 1-4)

Dalam banyak riwayat Rasulullah menjelaskan pentingnya menjaga lisan, diantaranya sabda beliau, ”Selamatnya manusia adalah karena ia memelihara lidahnya”.

Dalam Ihyâ Ulûmuddîn, Imam Al-Ghazali mengelompokkan pembicaraan kepada empat macam.

Pertama, pembicaraan yang hanya mengandung bahaya saja dan tidak memiliki manfaat.

Kedua, pembicaraan yang mempunyai manfaat dan di dalamnya tidak mengandung bahaya.

Ketiga, pembicaraan yang selain ada manfaatnya juga ada bahayanya.

Keempat, pembicaraan yang tidak mengandung bahaya dan tidak memiliki manfaat.

Coba kita simak cerita di bawah ini, mudah-mudahan bisa menjadi ibrah bagi kita

Singkat cerita, ada seorang raja yang bermimpi giginya tanggal semua tinggal satu. Begitu gusar hati sang raja karena mimpi yang dialaminya. Dipangillah para penasehat raja untuk menakwilkan mimpinya semalam.

“Ya, Wazir semalam aku bermimpi gigiku hilang dan hanya tersisa satu, ku harap kamu bisa memberi takwil dari mimpiku dengan sebenar-benarnya !”, perintah Raja pada seorang penasehatnya.

Dengan kejujuran dan kecemasan sang Wazir menakwilkan mimpi raja, “ Duhai raja… mimpi raja adalah alamat bencana dan kecelakaan bagi negeri ini, sungguh ya Raja tidak ada bencana seberat bencana yang akan menerpa negeri ini dikarenakan mimpi baginda raja!”

Bertambah gusarlah hati sang Raja mendengar takwil mimpinya dari penasehatnya,”Banarkah itu hai Wazir, coba kamu katakan bencana apa yang hendak terjadi ?”

“Saya tidak sanggup mengatakannya duhai baginda Raja”, jawab Wazir.

“Katakanlah hai Wazir”, “Sebab aku akan menghukummu bila kamu tidak mengatakan takwil yang sebenarnya dari mimpiku”, sergah Raja.

Dengan sangat terpaksa Wazirpun menjawab,”Mimpi raja berarti, semua rakyat raja akan mati kecuali raja”.

Mendengar penjelasan wazir amat murkalah Sang raja,”Kalau memang begitu arti mimpiku, apalah artinya aku jadi raja bila tidak memiliki rakyat !”.”Pengawal .., Pancung Wazir !”.”Dia tak becus menakwilkan mimpi”.

Hati baginda raja tak percaya dan semakin gundah setelah mendengar takwil dari penasehatnya yang pertama. Dipanggilnya penasehat kedua untuk menakwilkan mimpi raja.

“Ya, Wazir saya memintamu hadir di sini untuk menakwilkan mimpiku semalam. Aku tidak puas dengan takwil penasehat pertama”.”Karenanya, saya harap kamu bisa memberikan takwil sebenar-benarnya tanpa ditutup-tutupi!”.

“Baik, baginda raja, hamba akan berusaha segala kemampuan ilmu yang ada pada diri hamba untuk menakwilkan mimpi paduka”. ”Mimpi apakah yang mendera paduka, sehingga paduka begitu gusar ?” tanya penasehat kedua.

“Semalam aku bermimpi gigiku hilang semua dan hanya tinggal satu”. “Wahai Wazir, takwilkan dengan sebenar-benarnya, kalau tidak … maka nyawamu akan jadi taruhannya !”, perintah Raja pada penasehat keduanya.

Setelah berfikir sejenak, dengan senyum dan wajah berseri sang Wazir pun menakwilkan mimpi raja, “ Duhai baginda raja yang mulia… mimpi baginda kali ini adalah alamat kebahagiaan dan kesentosaan bagi raja serta keberkahan bagi seluruh negeri”.

Mendengar penjelasan Wazir kedua berbinarlah mata sang raja dan berharap segera mendapat kepastian arti mimpinya,”Banarkah ucapanmu hai Wazir, coba kamu segera katakan kebahagiaan macam apa yang akan saya peroleh ?”

Sambil dan tersenyum dan terus memuji raja Wazirpun menjawab,

”Mimpi raja berarti, umur raja lebih panjang dari rakyatnya”.

Demi mendengar penjelasan penasehat kedua, bertambahlah suka cita Sang raja. Diperintahkan punggawa istana memberi hadiah yang tak terkira banyaknya atas takwil dari Wazir .

Pembaca… :

Takwil mimpi raja dari penasehat pertama dan kedua memiliki kesamaan Arti tapi disampaikan dengan cara dan bahasa yang berbeda maka dampaknyapun perbeda.

WaLLohu ta’ala a’lam

Hasan al-Basri (642728 atau 737); bahasa Arab:حسن البسری ; Abu Sa’id al-Hasan ibn Abi-l-Hasan Yasar al-Basri) ialah ahil teologi Arab terkenal dan cendekiawan Islam.

Hassan al-Basri dilahirkan di Madinah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin al-Khattab pada tahun 21 Hijrah (642 Masihi). Pernah menyusu pada Ummu Salmah, isteri Rasulullah S.A.W. al-Hassan al-Basri pernah berguru kepada beberapa orang sahabat Rasul S.A.W. sehingga beliau muncul sebagai ulama terkemuka dalam peradapan Islam. Disamping itu al-Hassan al-Basri juga termasuk jajaran ulama ahli tasawuf (Sufi). al-Hassan al-Basri meninggal di Basrah, Iraq, pada 110 Hijrah (728 Masihi). Beliau pernah hidup pada zaman pemerintahan Khalifah Abdul Malik b. Marwan.

Dikisahkah suatu hari ada seorang pemuda dari Bagdad yang bermaksud berguru pada sufi al-Hassan al-Basri di Basrah. Sesampai di Basrah sang pemuda bertanya – tanya dimana rumah Hassan al-Basri. Setelah mendapat informasi dicarilah letak kediaman Hassan al-Basri. Di luar dugaan si pemuda, didapati rumah Al Basri adalah rumah terbagus di Basrah. Sedetik rasa bimbang dan ragu dalam hati sang pemuda. Ulama besar al-Hassan al-Basri, ulama yang dielu-elukan banyak orang, fatwanya menundukkan gubernur Iraq Al Hajaj, tetapi dalam benak pemuda al-Hassan al-Basri tidak lebih dari ulama yang mementingkan duniawi.

Melihat kenyataan itu, sang pemuda memutuskan untuk mengurungkan niat berguru pada al-Hassan al-Basri. Belum lagi sang pemuda meninggalkan pelataran rumah Hassan al-Basri, datang menghampiri kereta kuda dengan kusirnya. Melihat ada yang janggal pada pemuda sang Kusir bertanya,

“Wahai pemuda kulihat anda dalam kebimbangan, bolehkah saya tahu anda ini dari mana dan apa maksud kedatangan anda di pekarangan Hasan Al Basri ini ?”.

Sang pemuda pun menjawab,

“Saya berasal dari Bagdad, maksud kedatangan saya ke sini adalah untuk berguru pada ulama Hasan Al Basri. Tapi melihat kondisi rumah beliau… saya ragu, mungkin beliau bukan ulama yang saya harapkan, beliau adalah ulama ‘suk’ (pembohong) ulama yang memikirkan dunia”.

Dengan senyum sang Kusir pun berkata,

“Oh begitu ya!”.

Sang Kusir melanjutkan perkataanya,

“Hai pemuda … Anda tadi mengatakan bahwa Anda berasal dari Bagdad, tentunya Anda belum tahu keindahan kota Basrah”.” Sebelum anda pulang kembali ke Bagdad, Maukah Anda saya ajak melihat-lihat keindahan kota Basrah?”.”Bila berkenan, naiklah di kereta saya ini !”

Sang pemuda menerima ajakan bersahabat dari sang kusir, diapun duduk di samping kusir. Sebelum kereta berjalan, sang kusir menitipkan segelas air kepada pemuda sambil berpesan,

“Wahai pemuda, salama perjalanan saya minta tolong Anda untuk membawakan segelas air minum saya, mohon dijaga jangan sampai tumpah!”.

Setelah sang pemuda memegang segelas air, mulailah kereta kuda berjalan, berkeliling ke seluruh penjuru kota Basrah. Selama perjalanan sang pemuda dengan penuh amanah dijagalah segelas air tersebut hingga tidak tumpah. Beberapa saat lama kereta kuda membawa pemuda dan kusir berkeliling kota Basrah, akhrinya kereta kuda berhenti tepat di muka rumah ulama Hasan Al Basri.

Sambil meminta kembali segelas air dari tangan pemuda, sang kusir bertanya,

“Wahai pemuda, bagaimana pendapatmu tentang keindahan kota Basrah ?”

Mendengar pertanyaan sang Kusir, dengan agak jengkel sang pemuda menjawab,

“Wahai Bapak Kusir, bagaimana mungkin saya bisa memperhatikan keindahan kota Basrah, sedangkan Bapak memberi amanah saya menjaga segelas air ?”

Dengan senyum, sang Kusirpun berkata,

“Begitulah Hasan Al Basri, walaupun dikelilingi dunia tetapi hati dan fikiran beliau tidak tertuju pada dunia tetapi sebaliknya hanya pada Sang Pencipta Dunia Alloh Subhanahu Wata’ala”.” Sebagaimana Anda yang telah berkeliling di antara keindahan kota Basrah, tetapi hati dan fikiran Anda hanya tertuju pada amanah segelah air”.

WaLLohu ta’ala a’lam

Cerita ini benar terjadi, saya dapat dari yang menyaksikan langsung

Singkat cerita, Ada tiga orang muallaf (kebetulan enis Cina) melakukan sholat dhuhur berjamaah di sebuah surau berbentuk panggung di sebuah kampung kabupaten Bima NTB.

Baru saja sholat dimulai dilihat ada seekor tikus melintas di depan mereka. Dikerenakan kaget salah seorang dari mereka yang kebetulan sebagai makmum berteriak “Tiku lali!”, (baca : tikus lari). Masih dalam keadaan sholat ma’mum yang lain mengingatkan teman yang bicara, “Sholat itu tidak boleh bicara !”, perkataan sang ma’mum didengar oleh imam lalu berkata, “Untung… saya diam !”. Kemudian mereka tidak bicara sampai sholat selesai.

Ahad pertama bulan Agustus 2007 jadwalku nimba ilmu di Ketintang Surabaya. Selesai kegiatan di Ketintang aku diantar Ust. Ony ke terminal Bungurasih untuk kembali ke negaraku Tulungagung.

Bersama temanku Ust Abd Karim kutunggu bis jurusan Trenggalek di pintu keluar terminal Bungurasih. Jam di HP pas pukul 13.00 matahari sangat terik, aku bersandar di dinding pagar untuk menghindari sengatan mentari. Maklum tak ada tempat berteduh.

Sambil berteduh kuamati orang lalu-lalang, termasuk prilaku orang senasib denganku “Menunggu Bis”. Diantara orang yang menunggu angkutan ada beberapa orang lari ke sana ke mari, naik turun bis untuk menjaring rizqi Alloh Robbul Izzati. Tak peduli panas, hingga dimarahi kondektur karna berebut berdesak-desakan dengan calon penumpang. Itulah pedangang asongan di terminal Bungurasih. Mereka punya niat tujuan yang mulia, mencari rizqi yang halal. Sementara diantara pencari rizqi di terminal ada makelar yang justru keberadaanya dikeluhkan oleh awak bis. Para pengamen yang kadang mengganggu ketenangan penumpang.

Ditengah aku mengamati mereka , datang padaku seorang pedangan dengan membawa setumpuk topi, sepertinya belum ada 1 topipun yang terjual setelah sekian lama berkejaran dengan bis antar kota. Nafas terengah dan keringat diwajah terlihat jelas mataku, dalam hati aku mengira, mungkin dia akan menawaran topinya padaku seperti yang dia lakukan kepada para calon penumpang lainnya. Tapi tidak, perkiraanku salah. Dia datang minta didoakan, “Mas jenengan dongakne topi kulo ndang payu !”. Dalam hati aku “Ta’ajub” di tengah hiruk pikuk orang mencari dunia di kota metropolis Surabaya ternyata ada orang mengakui kekuatan Doa, setelah bersusah payah dengan akal fikiran dan tenaga, ternyata ada “Penentu akhir” setiap ihtiar, yaitu Alloh Robb Yang Maha Memberi Rizqi, Yang Maha Memaksa, Yang Maha Menentukan.

“Apabila ada hambaku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku (Alloh), katakanlah bahwa aku dekat”,” Aku akan mengabulkan doa hambaku bila ia berdoa”. Begitu arti sebuah ayat dalam surat Al Baqoroh. Berbekal ayat tersebut, saya sampaikan kepada pedangan topi, ” Yang paling tepat berdoa adalah Anda sendiri, saya bisa mengajari Lafal doanya, Mau saya ajari doa supaya dagangan laku ? tanya saya.”Ya!”, jawabnya. “Ucapkan ‘Allohumma Laris’ dengan keyakinan dan kesungguhan saya yakin doa Anda akan dikabulkan Alloh”.