Dalam Al-Quran, Allah swt menunjukkan kemurkaan-Nya kepada orang-orang yang berbicara: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu membicarakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. Al-Shaf: 3) Meskipun demikian, dalam Al-Quran juga disebutkan bahwa kemampuan bicara adalah fitrah manusia yang diberikan oleh Allah seperti dinyatakan dalam surat Al-Rahman: Tuhan Yang Mahapemurah, Yang telah mengajarkan Al-Quran. Dia menciptakan manusia dan mengajarnya pandai berbicara. (QS. Al-Rahman: 1-4)
Dalam banyak riwayat Rasulullah menjelaskan pentingnya menjaga lisan, diantaranya sabda beliau, ”Selamatnya manusia adalah karena ia memelihara lidahnya”.
Dalam Ihyâ Ulûmuddîn, Imam Al-Ghazali mengelompokkan pembicaraan kepada empat macam.
Pertama, pembicaraan yang hanya mengandung bahaya saja dan tidak memiliki manfaat.
Kedua, pembicaraan yang mempunyai manfaat dan di dalamnya tidak mengandung bahaya.
Ketiga, pembicaraan yang selain ada manfaatnya juga ada bahayanya.
Keempat, pembicaraan yang tidak mengandung bahaya dan tidak memiliki manfaat.
Coba kita simak cerita di bawah ini, mudah-mudahan bisa menjadi ibrah bagi kita
Singkat cerita, ada seorang raja yang bermimpi giginya tanggal semua tinggal satu. Begitu gusar hati sang raja karena mimpi yang dialaminya. Dipangillah para penasehat raja untuk menakwilkan mimpinya semalam.
“Ya, Wazir semalam aku bermimpi gigiku hilang dan hanya tersisa satu, ku harap kamu bisa memberi takwil dari mimpiku dengan sebenar-benarnya !”, perintah Raja pada seorang penasehatnya.
Dengan kejujuran dan kecemasan sang Wazir menakwilkan mimpi raja, “ Duhai raja… mimpi raja adalah alamat bencana dan kecelakaan bagi negeri ini, sungguh ya Raja tidak ada bencana seberat bencana yang akan menerpa negeri ini dikarenakan mimpi baginda raja!”
Bertambah gusarlah hati sang Raja mendengar takwil mimpinya dari penasehatnya,”Banarkah itu hai Wazir, coba kamu katakan bencana apa yang hendak terjadi ?”
“Saya tidak sanggup mengatakannya duhai baginda Raja”, jawab Wazir.
“Katakanlah hai Wazir”, “Sebab aku akan menghukummu bila kamu tidak mengatakan takwil yang sebenarnya dari mimpiku”, sergah Raja.
Dengan sangat terpaksa Wazirpun menjawab,”Mimpi raja berarti, semua rakyat raja akan mati kecuali raja”.
Mendengar penjelasan wazir amat murkalah Sang raja,”Kalau memang begitu arti mimpiku, apalah artinya aku jadi raja bila tidak memiliki rakyat !”.”Pengawal .., Pancung Wazir !”.”Dia tak becus menakwilkan mimpi”.
Hati baginda raja tak percaya dan semakin gundah setelah mendengar takwil dari penasehatnya yang pertama. Dipanggilnya penasehat kedua untuk menakwilkan mimpi raja.
“Ya, Wazir saya memintamu hadir di sini untuk menakwilkan mimpiku semalam. Aku tidak puas dengan takwil penasehat pertama”.”Karenanya, saya harap kamu bisa memberikan takwil sebenar-benarnya tanpa ditutup-tutupi!”.
“Baik, baginda raja, hamba akan berusaha segala kemampuan ilmu yang ada pada diri hamba untuk menakwilkan mimpi paduka”. ”Mimpi apakah yang mendera paduka, sehingga paduka begitu gusar ?” tanya penasehat kedua.
“Semalam aku bermimpi gigiku hilang semua dan hanya tinggal satu”. “Wahai Wazir, takwilkan dengan sebenar-benarnya, kalau tidak … maka nyawamu akan jadi taruhannya !”, perintah Raja pada penasehat keduanya.
Setelah berfikir sejenak, dengan senyum dan wajah berseri sang Wazir pun menakwilkan mimpi raja, “ Duhai baginda raja yang mulia… mimpi baginda kali ini adalah alamat kebahagiaan dan kesentosaan bagi raja serta keberkahan bagi seluruh negeri”.
Mendengar penjelasan Wazir kedua berbinarlah mata sang raja dan berharap segera mendapat kepastian arti mimpinya,”Banarkah ucapanmu hai Wazir, coba kamu segera katakan kebahagiaan macam apa yang akan saya peroleh ?”
Sambil dan tersenyum dan terus memuji raja Wazirpun menjawab,
”Mimpi raja berarti, umur raja lebih panjang dari rakyatnya”.
Demi mendengar penjelasan penasehat kedua, bertambahlah suka cita Sang raja. Diperintahkan punggawa istana memberi hadiah yang tak terkira banyaknya atas takwil dari Wazir .
Pembaca… :
Takwil mimpi raja dari penasehat pertama dan kedua memiliki kesamaan Arti tapi disampaikan dengan cara dan bahasa yang berbeda maka dampaknyapun perbeda.
WaLLohu ta’ala a’lam
DIarsipkan di bawah: Uncategorized