Rasulullah saw bersabda: “Jauhilah olehmu prasangka, karena prasangka adalah sebohong bohongnya ucapan, dan janganlah kamu mencari kejelekan orang lain, dan janganlah kamu merasa baik, dan janganlah kamu saling menghasut, dan janganlah saling membenci, dan janganlah saling berpaling dan jadilah engkau hamba-hamba Allah yang bersaudara”
Al kisah di sebuah pesantren kecil di pedalaman pulau Jawa tinggal seorang Kyai sepuh yang terkenal dengan kearifannya. Suatu hari datang 3 orang Kyai muda bertamu kepada beliau.
Kedatangan tamu Kyai Muda disambut sang Kyai sepuh dengan penuh keramahan dan diberikan pelayanan sebagaimana tamu terhormat.
Ketika datang waktu sholat maghrib, Kyai sepuh mengajak ketiga tetamunya untuk sholat berjama’ah. Dimintanya salah seorang dari tetamu untuk menjadi imam sholat maghrib. Tetapi ketiga tetamu menolak dengan alasan “Ashhabul Ma’had” lebih afdhol untuk menjadi imam dari pada mereka yang hanya sebagai tamu.
Ketika sholat berlangsung dirasakan bacaan surat Kyai Sepuh tidaklah sefasih yang dibayangkan para Kyai muda. Walhasil selepas sholat maghrib ketiga Kyai Muda membincangkan perihal bacaan Kyai Sepuh.
Kebimbangan Kyai Muda atas bacaan Kyai Sepuh sebenarnya disadari dan diketahui oleh Kyai Sepuh, sehingga sejak awal Kyai Sepuh meminta diantara Kyai Muda ada yang sudi menjadi imam. Tetapi kenyataan itu telah terjadi dan Kyai Sepuh sengaja tidak segera memberi tanggapan atas rerasan Kyai Muda mengenai bacaan Kyai Sepuh. Sampai keesokan harinya…
Saat takhrim dikumandangkan dari musholla, Kyai Sepuh dan ketiga tamunya mempersiapkan diri untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Kyai Sepuh terlebih dahulu mandi dan mengambil air wudlu di sungai dekat pesantren, kemudian diikuti ketiga tamunya.
Para santri telah menunggu di musholla dengan mengumandangkan Adzan Subuh dilanjutkan puji-pujian menjelang sholat. Kyai Sepuh telah hadir di musholla dan lantunkan pujianpun diakhiri dilanjutkan iqomah oleh seorang santri.
Ada yang janggal dirasakan oleh Kyai Sepuh pada subuh hari itu. Sampai dzikir ba’da sholat selesai ketiga Kyai Muda tamu Kyai Sepuh belum terlihat di musholla. Ada rasa khawatir pada diri Kyai Sepuh, dicarilah ketiga tetamu ke sungai tempat mengambil air wudlu.
Betul perkiraan Kyai Sepuh, ternyata ketiga Kyai Muda masih berada di dalam air. Kyai Sepuhpun menegur,
“Wahai para Kyai waktu shubuh sudah hampir habis, mengapa Anda belum juga naik ?
Salah seorang Kyai Mudapun menjawab,
“Ya Kyai tidakkah Anda melihat di tempat kami menaruh pakaian ada seekor harimau yang duduk di situ ?”.”Kyai …tolong usir harimau itu sehingga kami dapat segera melaksanakan sholat subuh !”
Melihat hal itu Kyai Sepuh kasihan dengan para Kyai Muda dan dengan mengangkat telunjuknya diusirlah harimau yang menduduki pakaian Kyai Muda. Aneh bin ajaib. Harimaupun pergi menuruti perintah Kyai Sepuh.
Begitu ta’ajub ketiga Kyai Muda dengan kecanggihan Kyai Sepuh, hanya dengan mengangkat telunjuk, harimau sudah takut dengan sang Kyai. Bertanyalah ketiga Kyai Muda,
“Ya Kyai… ilmu apa yang ada miliki sehingga hanya dengan mengacungkan telunjuk harimau begitu takut kepada Kyai”
Dengan tersenyum Kyai Sepuh menjawab,
“Para Kyai … anda pun sebenarnya bisa melakukannya. Hanya karena Anda bertiga memandang sesuatu hanya dari luarnya saja maka Anda tidak bisa melakukannya”.
“Harimau, dilihat dari bentuk luarnya adalah besar dan buas, tetapi pada hakekatnya harimau hanyalah seekor binatang yang kemampuannya jauh dibawah kemampuan manusia dan seharusnya tunduk terhadap manusia”
Mendengar penjelasan Kyai Sepuh, Kyai Muda akhirnya menyadari kehilafannya. Mereka pun memohon maaf kepada Kyai Sepuh karena telah meragukan (meremehkan) dengan hanya karena mendengar bacaan Kyai Sepuh.
WaLLohu ta’ala a’lam
DIarsipkan di bawah: Uncategorized