Sufi Hasan Al Basri

Hasan al-Basri (642728 atau 737); bahasa Arab:حسن البسری ; Abu Sa’id al-Hasan ibn Abi-l-Hasan Yasar al-Basri) ialah ahil teologi Arab terkenal dan cendekiawan Islam.

Hassan al-Basri dilahirkan di Madinah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin al-Khattab pada tahun 21 Hijrah (642 Masihi). Pernah menyusu pada Ummu Salmah, isteri Rasulullah S.A.W. al-Hassan al-Basri pernah berguru kepada beberapa orang sahabat Rasul S.A.W. sehingga beliau muncul sebagai ulama terkemuka dalam peradapan Islam. Disamping itu al-Hassan al-Basri juga termasuk jajaran ulama ahli tasawuf (Sufi). al-Hassan al-Basri meninggal di Basrah, Iraq, pada 110 Hijrah (728 Masihi). Beliau pernah hidup pada zaman pemerintahan Khalifah Abdul Malik b. Marwan.

Dikisahkah suatu hari ada seorang pemuda dari Bagdad yang bermaksud berguru pada sufi al-Hassan al-Basri di Basrah. Sesampai di Basrah sang pemuda bertanya – tanya dimana rumah Hassan al-Basri. Setelah mendapat informasi dicarilah letak kediaman Hassan al-Basri. Di luar dugaan si pemuda, didapati rumah Al Basri adalah rumah terbagus di Basrah. Sedetik rasa bimbang dan ragu dalam hati sang pemuda. Ulama besar al-Hassan al-Basri, ulama yang dielu-elukan banyak orang, fatwanya menundukkan gubernur Iraq Al Hajaj, tetapi dalam benak pemuda al-Hassan al-Basri tidak lebih dari ulama yang mementingkan duniawi.

Melihat kenyataan itu, sang pemuda memutuskan untuk mengurungkan niat berguru pada al-Hassan al-Basri. Belum lagi sang pemuda meninggalkan pelataran rumah Hassan al-Basri, datang menghampiri kereta kuda dengan kusirnya. Melihat ada yang janggal pada pemuda sang Kusir bertanya,

“Wahai pemuda kulihat anda dalam kebimbangan, bolehkah saya tahu anda ini dari mana dan apa maksud kedatangan anda di pekarangan Hasan Al Basri ini ?”.

Sang pemuda pun menjawab,

“Saya berasal dari Bagdad, maksud kedatangan saya ke sini adalah untuk berguru pada ulama Hasan Al Basri. Tapi melihat kondisi rumah beliau… saya ragu, mungkin beliau bukan ulama yang saya harapkan, beliau adalah ulama ‘suk’ (pembohong) ulama yang memikirkan dunia”.

Dengan senyum sang Kusir pun berkata,

“Oh begitu ya!”.

Sang Kusir melanjutkan perkataanya,

“Hai pemuda … Anda tadi mengatakan bahwa Anda berasal dari Bagdad, tentunya Anda belum tahu keindahan kota Basrah”.” Sebelum anda pulang kembali ke Bagdad, Maukah Anda saya ajak melihat-lihat keindahan kota Basrah?”.”Bila berkenan, naiklah di kereta saya ini !”

Sang pemuda menerima ajakan bersahabat dari sang kusir, diapun duduk di samping kusir. Sebelum kereta berjalan, sang kusir menitipkan segelas air kepada pemuda sambil berpesan,

“Wahai pemuda, salama perjalanan saya minta tolong Anda untuk membawakan segelas air minum saya, mohon dijaga jangan sampai tumpah!”.

Setelah sang pemuda memegang segelas air, mulailah kereta kuda berjalan, berkeliling ke seluruh penjuru kota Basrah. Selama perjalanan sang pemuda dengan penuh amanah dijagalah segelas air tersebut hingga tidak tumpah. Beberapa saat lama kereta kuda membawa pemuda dan kusir berkeliling kota Basrah, akhrinya kereta kuda berhenti tepat di muka rumah ulama Hasan Al Basri.

Sambil meminta kembali segelas air dari tangan pemuda, sang kusir bertanya,

“Wahai pemuda, bagaimana pendapatmu tentang keindahan kota Basrah ?”

Mendengar pertanyaan sang Kusir, dengan agak jengkel sang pemuda menjawab,

“Wahai Bapak Kusir, bagaimana mungkin saya bisa memperhatikan keindahan kota Basrah, sedangkan Bapak memberi amanah saya menjaga segelas air ?”

Dengan senyum, sang Kusirpun berkata,

“Begitulah Hasan Al Basri, walaupun dikelilingi dunia tetapi hati dan fikiran beliau tidak tertuju pada dunia tetapi sebaliknya hanya pada Sang Pencipta Dunia Alloh Subhanahu Wata’ala”.” Sebagaimana Anda yang telah berkeliling di antara keindahan kota Basrah, tetapi hati dan fikiran Anda hanya tertuju pada amanah segelah air”.

WaLLohu ta’ala a’lam

Tinggalkan Balasan