Tiga orang sahabat yang tinggal berjauhan bertemu dan saling mengeluhkan keadaan masyarakat di lingkungan mereka tinggal.
Si A merasa tidak betah tinggal di lingkungannya karena mayoritas masyarakatnya pecandu khomer. Si B juga merasa gerah karena tetangga kiri kanannya adalah aktivis togel. Demikian pula Si C soalah tak bisa bernafas begitu maraknya kemaksiatan desanya.
Walhasil ketiga sahabat bersepakat untuk hijrah dari lingkungannya masing-masing dengan membentuk komunitas baru yang lebih islami, dan barokah.
Selama beberapa tahun ketiga sahabat hidup rukun, saling mengerti tugas masing-masing dengan hanya mengharap ridlo Alloh Ta’ala. Ketika datang sholat subuh Si A jadi Imam, Si B yang Iqomah, dan Si C penata sandal, hal itu dilakukan secara bergilir tanpa iri dan dengki.
Suatu hari datanglah ujian Alloh. Ketika ketiga sahabat sedang malaksanakan sholat, ketiganya menangkap bau kentut. Tetapi anehnya tidak satupun dari ketiganya yang membatalkan sholat. Dalam dada Ketiga sahabat dihinggapi rasa syak, Si A yang kebetulan jadi Imam bertanya-tanya kenapa kedua sahabatnya tidak satupun yang membatalkan sholat padahal sangat jelas bau tak sedap telah menyengat hidung dan dia sendiri yakin tidak berhadas, timbullah dalam hati Si A su’udzon, diantara dua sahabatnya pasti ada yang sudah tidak amanah lagi, pasti ada yang berhianat. Juga halnya yang dirasakan Si B dan Si C yang kebetulan jadi makmum, masing-masing merasa tidak buang angin, dan masing-masing menaruh curiga bahwa diantara sahabatnya sudah tidak bisa dipercaya lagi.
Kemelut hati ketiga sahabat di dalam sholat ternyata berlanjut dengan perdebatan yang tak berujung, saling tuduh dan masing-masing merasa paling benar. Mereka tidak menyadari dan tidak mau tahu bahwa ada hewan dan tumbuhan yang bisa mengeluarkan bau seperti bau kentut. Akhirnya ketiga sahabat sepakat untuk “Firoq” berpisah membawa keyakinan dan kegalauan masing-masing.
Kisah ini hanyalah i’tibar bahwa di dalam kehidupan, berkeluarga, berkelompok, berjamaah, bermasyarakat, dan atau berlembaga, pastilah suatu saat diuji dengan datangnya “Bau Kentut” fitnah, ketidak jujuran, kesombongan, keserakahan, arogansi yang pemicu dan sumbernya mungkin bisa dari pihak luar, dari orang lain kelompok lain atau bahkan dari makhluq lain.
Perlu kelapangan dada, keluasan fikir, kekayayan ilmu, tsiqoh atas kesepakatan berjamaah, dan keyakinan untuk bersama meraih ridlo Alloh.
Wallohu a’lam
DIarsipkan di bawah: Uncategorized